KUTABLANG — Sepuluh mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Tematik Institut Agama Islam (IAI) Almuslim Aceh resmi menyelesaikan program pengabdian berbasis pemberdayaan masyarakat di Gampong Tingkeum Manyang, Kecamatan Kutablang. Program yang berlangsung selama dua bulan sejak Februari 2023 ini berfokus pada dua instrumen strategis: akselerasi pendataan Sistem Informasi Gampong (SIGAP) serta pendampingan branding bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Secara teknis, efektivitas tata kelola data desa diwujudkan melalui penginputan data SIGAP yang berhasil mendata lebih dari 334 Kepala Keluarga (KK). Proses rekapitulasi ini dilakukan secara berkesinambungan melalui koordinasi intensif bersama operator pemerintah desa setempat guna menjamin validitas data kependudukan.
Ketua Kelompok KPM Tingkeum Manyang, Fahrol Hidayat, menjelaskan bahwa selain pemutakhiran data publik, intervensi difokuskan pada pemetaan potensi ekonomi domestik masyarakat, khususnya sektor usaha rumahan.
“Fokus kami tidak hanya terhenti pada digitalisasi administrasi desa melalui aplikasi SIGAP, tetapi juga menyasar pendataan dan pendampingan substantif bagi para pelaku UMKM yang telah memproduksi komoditas pangan mandiri,” ujar Fahrol pada acara perpisahan di Gampong Tingkeum Manyang, Bireuen, Senin (22/5/2023).
Inovasi Kemasan dan Strategi Pemasaran Terpadu
Dalam konteks pengembangan UMKM, tim KPM mengidentifikasi sejumlah kendala struktural yang dihadapi para produsen kudapan lokal berbasis rumah tangga, seperti usaha peyek kacang tanah, kue malinda, ceker ayam, dan gring. Hambatan utama yang dialami para pelaku usaha minoritas ibu rumah tangga tersebut berkisar pada terbatasnya jangkauan pasar (market reach) dan segmentasi pemasaran yang belum teroganisasi secara modern.
Mahasiswi Program Studi Ekonomi Syariah IAI Almuslim Aceh, Nurrahmah, memaparkan bahwa intervensi akademik yang diberikan mencakup otomatisasi pemasaran sederhana (product branding) serta peningkatan standar proteksi kemasan (packaging).
“Sebagian besar komoditas diproduksi secara mandiri di skala domestik. Kami memberikan edukasi visual berupa pelabelan identitas produk (branding) dan diferensiasi kemasan agar memiliki daya simpan lebih panjang (shelf-life) serta mampu bersaing di pasar yang lebih luas (go public),” jelas Nurrahmah.
Salah satu subjek pendampingan adalah usaha peyek rumahan milik Suryana (29), warga Gampong Kapa yang memproduksi hingga 20 kilogram peyek per minggu. Usaha yang berdiri sejak 2015 tersebut sempat mengalami penurunan skala distribusi akibat keterbatasan sumber daya manusia dan akses pasar pasca-berkeluarga. Melalui pendampingan ini, produk peyek tersebut dilengkapi identitas visual baru serta penyertaan kanal komunikasi digital untuk memfasilitasi pemesanan secara sistematis.
Apresiasi Pemerintah Desa dan Transfer Pengetahuan
Keuchik Gampong Tingkeum Manyang, Ir. Mawardi, M.S.M., mengapresiasi kontribusi interdisipliner para mahasiswa KPM. Menurutnya, kolaborasi perguruan tinggi dan pemerintah desa memberikan stimulus positif terhadap efisiensi program kerja desa.
“Pemerintah desa menyampaikan apresiasi atas kontribusi nyata para mahasiswa dan civitas akademika IAI Almuslim Aceh. Kehadiran KPM ini tidak hanya membantu optimalisasi program SIGAP, tetapi juga memberikan dampak korelatif bagi peningkatan kualitas UMKM di gampong kami,” kata Mawardi.
Kelompok KPM Tingkeum Manyang terdiri dari 10 mahasiswa lintas disiplin ilmu: Utami Hapsari, Putri Azahra, Fadhillah (Pendidikan Agama Islam); Nisa Nurazizah, Nurrahmah (Ekonomi Syariah); Syifa Ul Husna, Ainal Firza (Perbankan Syariah); Auzan Rifki, Fahrol Hidayat (Hukum Keluarga Islam); serta M. Reza Syauqi (Pendidikan Bahasa Arab). Seluruh kegiatan berada di bawah supervisi Aulia Fitri, M.M., selaku Ketua Prodi Perbankan Syariah IAI Almuslim Aceh.









Belum ada komentar