Pentingnya Keunikan Sebuah Daerah di Angkat pada Sistem Kepariwisataan Nasional
Pentingnya Keunikan Sebuah Daerah di Angkat pada Sistem Kepariwisataan Nasional

SISPARNAS dan Akselerasi Ekonomi Kreatif: Upaya IAI Almuslim Aceh Dorong Digitalisasi Pariwisata Daerah

BANDA ACEH — Ketua Program Studi Ekonomi Syariah Institut Agama Islam (IAI) Almuslim Aceh, Aulia Fitri, S.Kom., M.M., menekankan pentingnya integrasi data pariwasata daerah ke dalam sistem nasional sebagai instrumen penguat ekonomi masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Aulia saat menjadi narasumber dalam lokakarya bertajuk “Pemahaman Indikator dan Pengisian Data Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif” yang berlangsung di Hotel Grand Aceh Syariah, Banda Aceh, Senin (25/9/2023).

Menurut Aulia, pemanfaatan Sistem Informasi Kepariwisataan Nasional (SISPARNAS)—platform basis data yang dikembangkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bekerja sama dengan dinas pariwisata daerah—memiliki peran strategis dalam memetakan serta mempromosikan keunikan ekonomi kreatif di 23 kabupaten/kota se-Provinsi Aceh.

“Keberadaan SISPARNAS harus didukung penuh. Banyak potensi dan keunikan daerah yang dapat diangkat ke tingkat nasional. Akses data yang terintegrasi ini berpeluang mendorong pertumbuhan arus wisatawan sekaligus menstimulasi perekonomian lokal,” ujar Aulia di hadapan puluhan surveyor lapangan.

Riset Partisipatif dan Dampak Ekonomi Ekraf

Secara teoretis-akademik, validitas data dalam sistem informasi manajemen pariwisata sangat bergantung pada metodologi pengumpulan data di lapangan. Pengampu mata kuliah Sistem Informasi Manajemen ini menggarisbawahi bahwa efektivitas sistem informasi berbanding lurus dengan kualitas data input.

Oleh karena itu, Aulia mengimbau para surveyor agar menerapkan pendekatan riset partisipatif (participatory research approach) dan tidak sekadar melakukan pengisian formulir secara administratif.

“Tim surveyor di lapangan perlu terlibat aktif dan berinteraksi mendalam dengan subjek maupun objek yang disurvei. Pendekatan ini penting untuk menggali narasi lokal (local genius) serta keunikan daerah yang selama ini belum terpublikasi,” jelasnya.

Dari sudut pandang pembangunan ekonomi berbasis komunitas (community-based economic development), ketersediaan data pariwisata yang transparan dan dapat diakses publik akan menciptakan efek ganda (multiplier effect). Ketika potensi daerah terekspos, para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) dan masyarakat setempat dituntut untuk siap menyediakan barang, jasa, serta produk turunan berdaya saing tinggi.

Integrasi antara ketersediaan data yang valid dan kesiapan ekosistem pelaku usaha lokal diyakini mampu mengakselerasi semangat kewirausahaan (entrepreneurship) serta menguatkan kemandirian ekonomi masyarakat Aceh secara berkelanjutan.

Belum ada komentar

Artikel Terkait